Limbah
sudah lama menjadi masalah di dunia . Teknologi penanggulangan limbah sangat
sedikit mendapat perhatian pemerintah padahal tidak sedikit masalah yang muncul
dari limbah tersebut.misalnya pencemaran air dan udara. Banyaknya jumlah
perindustrian semakin menambah deret permasalahan limbah ini dan sudah
selayaknya pemilihan serta penggunaan teknologi yang tepat dalam mengatasi
masalah limbah segera diterapkan.
Teknologi
plasma,sebuah teknologi yang telah digunakan banyak nrgara seperti di Jepang teknologi
plasma banyak dipergunakan untuk mengolah limbah gas dan cair dari berbagai
kegiatan industri domestik, serta dari asap kendaraan bermotor. Sedangkan di
negara Eropa dan Amerika berbagai penelitiaan dari penggunaan teknologi plasma
untuk mengolah limbah juga banyak dikembangkan.
Plasma
yang dimaksud bukan plasma darah seperti yang umum disebutkan dalam biologi.
Plasma disini adalah zat keempat di
samping zat klasik: padat, cair, dan gas. Plasma ditemukan pada tahun 1928 oleh ilmuwan
Amerika, Irving Langmuir (1881-1957) dalam eksperimennya melalui lampu tungsten
filament.
Plasma sangat mudah
dibuat, caranya dengan pemanfaatan tegangan listrik. Contoh, hadapkan dua
electrode di udara bebas. Seperti kita ketahui udara adalah isolator, materi
yang tidak menghantarkan listrik. Namun, apabila pada dua electrode tadi
diberikan tegangan listrik yang cukup tinggi (10 kV<), sifat konduktor akan
muncul pada udara tersebut, yang bersamaan dengan itu pula arus listrik mulai
mengalir (electrical discharge), fenomena ini disebut eletrical breakdown.
Mengalirnya arus
listrik menunjukkan akan adanya ionisasi yang mengakibatkan terbentuknya ion
serta elektron pada udara di antara dua elektrode tadi. Semakin besar tegangan
listrik yang diberikan pada elektrode, semakin banyak jumlah ion dan elektron
yang terbentuk. Aksi-reaksi yang terjadi antara ion dan elektron dalam jumlah
banyak ini menimbulkan kondisi udara di antara dua electrode ini netral, inilah
plasma. Singkat kata plasma adalah kumpulan dari electron bebas, ion dan atom
bebas.
Mengatasi polusi
dengan plasma sebenarnya bukan sebuah hal yang baru. Pada tahun 1907 Frederick
Cottrell memperkenalkan electrostatic precipitator (EP) untuk mengatasi polusi
akibat aerosol (sampah udara) dari asap pabrik hasil pembakaran. EP dapat
digunakan untuk mengumpulkan aerosol. Prinsip kerja dari EP adalah perpaduan
dari medan electrostatic dan aliran ion yang dihasilkan oleh corona discharge.
Mekanisme kerjanya adalah partikel aerosol ditangkap atau dikumpulkan oleh
aliran ion, kemudian kumpulan partikel tadi diangkut oleh medan electrostatic
lalu dipisahkan. Sekarang EP banyak digunakan untuk mengatasi aerosol dari asap
pabrik termasuk di antaranya, di Indonesia.
Namun, asap hasil
pembakaran dari pabrik maupun kendaraan bermotor tidak hanya mengandung aerosol
saja, tetapi didapati juga gas NOx, SOx, CO, dan Dioxin yang diketahui sangat
berbahaya pada kesehatan. Kita mengenal hujan asam (HNO3 dan H2SO4)
yang dapat mengakibatkan kanker. Juga gas CO yang dapat mematikan apabila kita
menghirupnya secara langsung. Kita juga dapat merasakan bertambah suhu bumi
akibat pertambahan CO2.
Prinsip dari
teknologi plasma dalam mengatasi kandungan gas NOx atau SOx sangat mudah.
Aksi-reaksi pada ion dan electron dalam plasma seperti reaksi ionisasi,
excitasi, dan dissociasi dengan udara bebas disekitarnya berlanjut dengan
terbentuk species aktif (ion, electron, molekul yang mudah bereaksi) seperti
Ozone, OH, O, NH3 yang memiliki sifat radikal sangat mudah bereaksi
dengan senyawa-senyawa yang ada disekitarnya. Species aktif yang terbentuk ini
kemudian bereaksi dengan gas NOx atau SOx kemudian mengubah serta
menguraikannya.
Teknologi
plasma memiliki beberapa kelebihan yaitu pembuatan peralatan dan maintenance
yang sangat mudah, namun memiliki efektivitas penguraian yang cukup tinggi.
Struktur yang mudah dari peralatan teknologi plasma memungkinkan untuk dipasang
langsung pada kendaraan bermotor, untuk mengurangi kadar NOx yang timbul pada
asap kendaraan hasil dari pembakaran bensin atau solar. Selain untuk itu
teknologi plasma dapat dipergunakan juga untuk menguraikan berbagai macam
senyawa beracun seperti Dioxin, gas VOC (Volatile organic compounds) seperti,
CFC, trichloroethylene, toluene, benzene, serta gas dari hasil pembakaran
lainnya.
Limbah
organik yang semakin banyak sulit untuk diuraikan dengan microbiologi atau
membran filtrasi, serta membahayakan keselamatan makhluk hidup, meskipun dalam
kandungan konsentrasi yang sangat kecil (ppm/ppb) seperti, senyawa dioxin, furan,
dan atrazine. Sehingga sistem pengolahan limbah cair yang ada sekarang tidaklah
cukup. Untuk mengatasi masalah limbah organik ini, teknologi ozone mulai
dipergunakan dalam proses pengolahan limbah cair. Teknologi ini dikenal dapat
membersihkan limbah cair hingga mendekati 100 persen (Japan Engineering
newspaper, 1996). Ozone ( dapat dibuat dengan mempergunakan teknologi plasma ).
Dewasa ini teknologi plasmalah yang paling banyak dipergunakan untuk membuat
ozone. Secara tidak langsung teknologi ozone adalah pemanfaatan dari teknologi
plasma itu sendiri.yang dikenal sebagai oksidant kuat, selain dapat
menghancurkan senyawa-senyawa organik, juga sekaligus dapat membunuh bakteri
yang terkandung dalam limbah tadi. Meskipun demikian masih ada beberapa kendala
yang harus diselesaikan pada teknologi ozone ini, seperti tingginya biaya
operasional serta adanya sisa ozone yang tertinggal dalam air setelah proses
pengolahan berlangsung. Sisa ozone yang memiliki kadar cukup tinggi, akan dapat
membahayakan manusia.
Selanjutnya,
teknologi plasma juga dapat dipergunakan secara langsung dalam proses
pengolahan limbah cair. Salah satu cara adalah dengan membuat plasma dalam air.
Seperti halnya plasma di udara, plasma dapat juga dibuat dalam air. Proses
pembuatannya sendiri hampir sama, hanya saja pembuatan plasma dalam air
memerlukan energi sedikit lebih besar dibandingkan pembuatan plasma di udara,
mengingat air adalah materi yang dapat mengalirkan arus listrik.
Banyaknya
reaksi fisika dan kimia yang dihasilkan oleh plasma dalam air, membuat
teknologi ini dapat merangkum beberapa proses yang dibutuhkan dalam pengolahan
air limbah. Sinar ultraviolet yang dihasilkan mampu mengoksidasi senyawa
organik sekaligus membunuh bakteri yang terkandung dalam limbah cair. Shockwave
yang ditimbulkan mampu menghasilkan proses super critical water yang juga
berperan dalam proses pengoksidasian senyawa organik. Dan, yang paling penting
banyak dihasilkan species aktif seperti OH, O, H, dan H2O2
yang merupakan beberapa oksidant kuat yang dapat mengoksidasi berbagai senyawa
organik sekaligus juga membunuh bakteri dalam limbah cair tersebut. Dan, tidak
ketinggalan panas yang dihasilkan oleh plasma ini pun berperan dalam berbagai
proses pengoksidasian.
Teknologi
plasma untuk mengolah limbah cair baik dengan teknologi ozone maupun dengan
teknologi plasma dalam air memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan cara
konvensional, microbiologi maupun membran filtrasi. Di antaranya proses
penguraian senyawa organik berlangsung sangat cepat, pembuatan peralatan serta
maintenance yang mudah, serta species aktif yang dihasilkan dapat menguraikan
hampir seluruh senyawa organik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar