Tidak salah dan tidak akan pernah salah jika kita menjadi seperti yang orang tua kita inginkan. Sepengetahuan saya,orang tua hanya menginginkan hal-hal sederhana pada anaknya. Bahkan dalam harapannya terhadap sang anak mereka tidak sama sekali memikirkan kepentingannya,mereka senantiasa mengharapkan yang terbaik untuk anaknya bukan yang terbaik untuk dirinya sendiri. Sungguh besar kasih sayang orang tua kita.
Suatu hal yang sangat wajar apabila orangtua memiliki suatu harapan terhadap anak-anaknya, justru sangat aneh rasanya bila ada orangtua yang tidak memiliki harapan apapun terhadap anak-anaknya. Saya tahu, sebagian diantara kita ataupun orangtua kita mungkin memiliki banyak keinginan dan harapan yang tinggi kepada anak-anaknya. Dan itu bukanlah sesuatu yang salah selama harapan-harapan itu tidak keluar dari koridor tuntunan ajaran agama. Dan dari sekian banyak hal yang diharapkan oleh orangtua, jika disederhanakan mungkin hanya akan menjadi 3 harapan utama, yakni :
1. Tumbuh Dewasa dan Menjadi Orang yang Soleh
Ya,
terlepas dari seperti apa kita atau anak-anak kita di masa
perkembangannya, orangtua hanya berharap, bahwa kelak ketika anak-anak
itu dewasa pada akhirnya bisa menjadi orang yang soleh yang patuh dan
taat terhadap ajaran agamanya. Terlebih bagi kita yang beragama Islam,
sedangkan apapun pemahaman kita dan sekecil apapun pengamalan kita
terhadap ajaran agama itu, kita pasti berharap agar anak-anak kita
kelak bisa lebih dari kita, lebih memahami dan lebih banyak
mengamalakan ajaran agama itu. Patut kita renungkan dan kita pertanyakan
kepada diri kita sendiri apabila kita tidak memiliki keinginan dan
harapan seperti itu. Sungguh, orangtua akan jauh lebih bangga saat
anaknya menjadi pejabat, menjadi pimpinan perusahaan, menjadi pengusaha
dan orang sukses atau hebat lainnya, tetapi sekaligus juga menjadi
orang yang soleh. Ini harus disampaikan dan dijadikan pedoman utama
bagi anak-anak agar mereka tidak kehilangan arah dalam mencapai
tujuan hidupnya setelah dewasa kelak. Tidak sedikit mereka yang masa
kanak-kanaknya rajin beribadat, patuh dan taat kepada orangtua, tetapi
kemudian akibat pengaruh lingkungan ataupun semakin lemahnya pengawasan
orangtua, malah tumbuh berbelok menjadi orang yang sebaliknya. Hal ini
mungkin tidak akan terjadi manakala anak-anak sudah memiliki pedoman
yang pasti tentang harus seperti apa mereka setelah menjadi dewasa
nanti. Dan inipun menjadi sebuah pertanyaan bagi diri kita sendiri,
sudahkah kita menjadi orangtua yang soleh seperti yang diharapkan
orangtua kita ? atau jangan-jangan malah kita sendiri belum tahu,
seperti apakah orang yang soleh itu ? dan akan lebih mengerikan lagi
apabila kita tidak atau belum memiliki sedikitpun keinginan untuk
menjadi orang yang soleh ! Naudzubillah, semoga tidak demikian. Ingat
firman Allah SWT dalam surat Al A’raaf ayat 179, yang artinya :
“Dan
sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin
dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk
memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak
dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka
mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar
(ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka
lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Al A’raaf: 179)
2. Hidup Sehat & Bahagia
Harapan
kedua dari orangtua adalah anak-anaknya selalu dalam kondisi sehat dan
hidup dalam kebahagiaan. Itulah mengapa banyak orangtua yang rewel dan
gelisah manakala si kecilnya sulit makan, sulit disuruh tidur siang,
sulit minum susu, dan sulit-sulit lainnya. Hal itu pulalah yang
menyebabkan orangtua selalu menginginkan anak-anaknya masuk rangking di
sekolah, mengikuti berbagai kegiatan, mengikuti berbagai les, belajar
berbagai keterampilan, dan sebagainya yang diharapkan akan menjadi
bekal di masa depannya. Hanya saja pertanyaan selanjutnya adalah,
apakah hal itu harus dipaksanakan ?
Tidak
sedikit orangtua yang memaksa anak untuk makan, tidur siang, minum
susu, vitamin dan sebagainya hanya karena ingin anaknya terlihat gemuk
padahal mereka sebenarnya sudah sehat. Tidak sedikit pula orangtua yang
memaksa anaknya untuk ikut les berbagai pelajaran, mengikuti berbagai
kegiatan, mengikuti kursus berbagai keterampilan, padahal sebenarnya
belum urgent untuk anak-anak pada usia itu sehingga menjadikan anak
malah merasa tersiksa menjalaniya. Tentu hal ini harus kita kaji ulang
kembali dan meluruskan pemahaman yang benar mengenai anak yang sehat
dan hidup bahagia itu sendiri. Untuk masalah kesehatan mungkin tidak
sulit, karena banyak parameter-parameter yang dikeluarkan para ahli
kesehatan mengenai seperti apa anak-anak yang sehat, yang kemudian bisa
kita jadikan acuan perlu tidaknya kita memaksakan sesuatau dengan
alasan demi kesehatan anak. Namun untuk kebahagiaan itu sendiri, setiap
orang mungkin memiliki parameter yang berbeda, termasuk parameter
bahagia yang ditetapkan orangtua terhadap anak. Sekiranya masih ada
alternatif lain, sekiranya jalan yang akan ditempuh anak masih
sedemikian panjang dimana segala sesutu hal masih sangat memungkinkan
terjadi dalam proses pencapaian hidup bahagia itu, mengapa kita harus
selalu memaksakan segala sesuatunya dengan alasan untuk kebahagiaan
mereka ? Mungkin hal yang benar-benar harus kita sadari dan kita camkan
kepada anak-anak kita adalah bahwa kebahagiaan itu tidak hanya bisa
diperoleh melalui uang atau materi atau pangkat dan jabatan. Diluar
semua itu masih ada hal lain yang bisa membuat hidup lebih bahagia,
yakni jiwa yang bersih, hati yang tentram, serta rasa syukur atas
segala nikmat dan karunia-Nya. Benarkah demikian ? mari kita tanya diri
kita, apakah anda akan bahagia dengan sepeda motor yang anda miliki
manakala anda merasa iri melihat tetangga yang memiliki sebuah mobil ?
Apakah anda bahagia dengan benda-benda mewah yang ada di rumah anda
manakala setiap saat hati anda gelisah karena takut didatangi perampok ?
Apakah anda bahagia dengan uang ratusan juta rupiah yang anda miliki
tetapi seminggu sekali anda harus cuci darah ? Intinya uang, materi,
pangkat, jabatan, dan sejenisnya memang bisa membuat hidup bahagia
selama itu bisa memberikan jiwa yang bersih, hati yang tentram, dan
selalu kita syukuri. ; akan tetapi di sisi lain, tanpa uang, materi,
pangkat, jabatan dan sejenisnya, selama itu bisa membuat jiwa bersih,
hati tentram, dan selalu bersyukur, itupun bisa membawa kebahagiaan yang
hakiki. Tetapi tentu saja inipun jangan disalah artikan. Saya hanya
sekedar ingin menekankan bahwa orientasi orangtua dalam membuat anak
hidup bahagia seharusnya bukan lagi pada materi, pangkat ataupun
jabatan, melainkan pada bagaimana agar anak kelak memiliki jiwa yang
bersih, hati yang tentram, dan selalu mensyukuri segala nikmat yang
diberikan-Nya.
“Dan
jiwa dan apa yang oleh Allah dijadikan untuk menyempurnakannya. Maka
Ia mengilhamkan kepadanya yang salah dan yang taqwa (benar), maka
sungguh beruntunglah orang yang membersihkan jiwanya dan sungguh
merugilah yang mengotori jiwanya”. (QS.As-Syams : 7-10)
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tentram”. (Q.S Ar-Ra’d (13):28).
“Dan
Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai
khabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tentram hatimu karenanya.
Dan kemenangan itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana”. (Q.S Ali Imran (3):126, (QS. al-Anfal (8):10)
“Dan
Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang
dahulunya aman lagi tentram, rizkinya melimpah ruah dari segenap
tempat, tetapi (penduduk) nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena
itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan,
disebabkan apa yang selalu mereka perbuat”. (QS An Nahl (16):112).
3. Hidup Sejahtera & Mampu Menjadi Penolong bagi Orang Lain yang Masih Memerlukan.
Tidak
ada satupun orangtua yang ingin melihat anaknya hidup susah. Segala
daya dan upaya dilakukan oleh orangtua agar anaknya kelak bisa hidup
sejahtera. Dan orangtua akan merasa lebih bahagia, manakala
kesejahteraan yang telah diraih anak-anaknya itu bisa pula dirasakan
oleh mereka yang masih membutuhkannya dengan cara menolong menyisihkan
sebagian dari harta yang dimilikinya. Semua orangtua pasti tidak
menghendaki anaknya menjadi orang yang kikir dan bahil, yang tidak
menyadari bahwa dari apa yang telah diperolehnya itu masih ada rejeki
orang lain didalamnya yang harus disampaikan kepada yang berhak
menerimanya. Terlepas apakah seorang anak kelak akan menjadi seorang
pejabat, seorang pimpinan perusahaan, seorang pengusaha sukses, atau
hanya menjadi orang biasa, selama dia hidup sejahtera sanggup mencukupi
kebutuhan diri dan keluarganya dan mampu menjadi penolong bagi
kepentingan agama dan orang lain yang membutuhkannya, tentu itu akan
sangat membahagiakan bagi orang tua. Masalah kesejahteraan hidup ini
merupakan masalah yang benar-benar penting yang tidak boleh diabaikan
mengingat banyak berbagai permasalahan yang akan timbul bila hal ini
diabaikan. Sedemikian pentingnya, masalah ini tertuang pula melalui
firman Allah SWT dalam surat An-Nisa ayat 9 yang artinya :
“Dan
hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan
di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap
(kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada
Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”. (QS. an-Nisa’ (4) : 9).
Adapun
mengenai pentingnya memberikan sebagian harta kepada orang-orang yang
berhak menerimanya, tertuang melalui firman Allah SWT dalam surat Al Baqoroh ayat 177, yang artinya :
“Bukanlah
menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan
tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari
kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta
yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang
miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang
meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan
menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia
berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan
dalam peperangan. Mereka itulah orangorang yang benar (imannya); dan
mereka itulah orang-orang yang bertakwa”. (Al-Baqoroh:177).
SEMOGA BERMANFAAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar